Menengok Cerita Sudamala di Candi Tegowangi


Relief cerita Sudamala yang tertuang pada salah satu sisi Candi Tegowangi (foto: Luana Yunaneva)
Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan Hindu yang terkenal pada masa lampau. Tidak heran kalau cakupan wilayahnya di Jawa Timur bisa dibilang cukup luas. Salah satu peninggalan bersejarahnya yang masih ada hingga saat ini adalah Candi Tegowangi.
Beralamat di Desa Tegowangi, Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, candi yang diperkirakan dibangun pada tahun 1400 pada zaman Kerajaan Majapahit ini masih berdiri dengan kokoh. 
Dikelilingi pepohonan sono, randu, dan mahoni membuat kawasan seluas dua hektar ini menjadi rindang sehingga membuat pengunjung merasa nyaman dan enggan beranjak cepat-cepat. 
Pintu masuk Candi Tegowangi (foto: Luana Yunaneva)
Teduhnya pepohonan yang mengelilingi Candi Tegowangi, jika dilihat dari atas bangunan candi (foto: Luana Yunaneva)
Memiliki bentuk persegi berukuran 11,2 meter pada setiap sisinya, candi ini bisa dikatakan tidak terlalu besar. Meski begitu, candi yang terbuat dari batu andesit ini sarat akan nilai-nilai sejarah, terutama Kerajaan Majapanit. 
Dalam Kitab Pararaton tertulis bahwa candi ini dulunya merupakan tempat Bhre Matahun, sepupu Raja Hayamwuruk, salah satu pemimpin Kerajaan Kadiri yang meninggal pada tahun 1388 lalu mendermakan dirinya. Pendermaan seorang raja baru bisa dilakukan 12 setelah sang raja wafat.
Seperti candi pada umumnya yang memiliki banyak relief pada setiap sisinya, ini Candi Tegowangi ini menggambarkan cerita Sudamala sebanyak 14 panel yang menghiasi sekeliling tubuhnya hingga setinggi lebih dari empat meter. Seluruh panel terbagi dalam tiga sisi bangunan, yaitu sisi utara, barat dan selatan. Untuk dapat membaca relief, Juru Pelihata Candi Tegowangi, Nur Ali menjelaskan, harus menggunakan reknik prasawiya, uaitu sebuah teknik membaca relief dengan berlawanan arah jarum jam.
"Kisah yang diangkat dalam relief ini adalah salah satu jenis tradisi yang sudah kita kenal, yakni ruwatan atau penyucian diri. Proses pemulihan diri ini dijalani oleh Batari Durga, seorang wanita yang buruk rupa dan jahat Namun berkat si bungsu Pandawa, Sadewa, Batari Durga mampu berubah 180 derajat menjadi sosok yang cantik dan baik hati bernama Dewi Uma,"papar pria yang akrab disapa Nur ini.
Kedengarannya cerita pertobatan manusia itu sangat menarik ya? Tapi siapa sangka kalau Kisah Sudamala yang ada di Candi Tegowangi itu diyakini belum tuntas. Hal ini dikarenakan bagian dinding utara dan selatan candi yang belum dipahat. Bangunan candi pun tampak tidak utuh karena setengah badan hingga kepala candi masih belum ditemukan keberadaannya hingga sekarang.
Saya berswafoto dengan latar belakang Candi Tegowangi yang diyakini tidak utuh karena belum tuntas pengerjaannya (foto: Luana Yunaneva)
"Bangunan Candi Tegowangi ini memang tampak sebagian saja. Baru kaki hingga setengah badan bagian bawah." Tukasnya. "Namun kalau ditanya kelanjutannya seperti apa, kami sebagai pihak pengelola tidak akan melanjukan proses pemahatan maupun pembangunan candi. Hal ini kami lakukan untuk menjaga keaslian bangunan."
Kawasan Candi Tegowangi tidak hanya terdapat candi inti tetapi juga bangunan candi pendamping atau perwara. Selain itu, di sekeliling candi terdapat sekitar 800 patahan batuan yang merupakan bagian dari bagian candi ini. Untuk mempermudah pendataan, patahan batuan ini ditata dan diberi tanda, sesudah dilakukan penelitian oleh pihak yang berwenang.
Candi pendamping atau perwara serta sebagian patahan batuan yang ada di samping bangunan inti Canti Tegowangi (foto: Luana Yunaneva)
Bagi Anda yang ingin berkunjung ke Candi Tegowangi, kawasan wisata bersejarah ini buka setiap hari mulai pukul 08.00 hingga 16.00. Tempat ini kerap menjadi tempat belajar sekaligus penelitian bagi pelajar dan mahasiswa dari Kediri maupun daerah lain di Indonesia, seperti Malang, Surabaya hingga luar Jawa. 
Apalagi lokasinya yang cukup dekat dengan Kampung Inggris, Pare membuat para pelajar dari berbagai daerah di Tanah Air selalu berusaha menyempatkan diri datang ke Candi Tegowangi.

Comments